Untuk Shofiana · belahan jiwaku, ibu dari anak-anakku

Dua belas tahun, hatiku selalu pulang padamu.

Sayang, kalau pernikahan adalah sebuah rumah, maka kamulah cahaya yang menyala di jendelanya setiap senja. Dua belas tahun sudah kamu menyiapkan makanku dari sarapan sampai makan malam dengan penuh kasih, menemaniku di setiap lelah, dan mendoakanku diam-diam. Laman kecil ini kubuat sendiri, dengan seluruh rasa syukur yang kupunya, untukmu.

12tahun bersamamu
4.383hari kita saling menjaga
1kamu, rumahku
Azmi dan Shofiana berdua
Kita · 2014 → selamanya♥

gulir pelan-pelan, seperti membuka surat cinta

01 / Surat

Untuk istriku, separuh jiwaku,

Bacalah pelan-pelan. Setiap kalimatnya kutulis sambil menyebut namamu.

Sayangku, dua belas tahun lalu aku berdiri di hadapanmu dengan tangan gemetar. Hari ini tanganku masih gemetar, tetapi kini karena syukur yang tak habis-habisnya. Kamu sabar membimbing laki-laki yang masih belajar menahan emosi dan melembutkan nada bicaranya ini, agar menjadi suami dan ayah yang lebih baik. Dan kamu mengubah sebuah rumah menjadi tempat paling menenangkan di dunia.

Karena hari-hariku hampir selalu kuhabiskan di rumah, aku menyaksikan semua yang kamu lakukan untuk kami. Dari sarapan sampai makan malam, kamu yang menyiapkan. Aku mengingat tawamu pada leluconku yang tidak lucu, teh hangat yang kamu antar tanpa diminta, dan caramu marah sebentar lalu tetap menyiapkan makanku dengan penuh kasih. Di situlah aku mengerti bahwa cinta bukan kembang api yang meriah, melainkan hidangan yang disiapkan setiap hari, dan doa yang dibisikkan saat aku sudah terlelap.

Kamu tahu aku tidak sempurna. Nadaku kadang meninggi, tanganku kadang kurang sigap, dan romantisku sering lupa datang. Namun kamu tetap menerimaku dengan hati seluas langit. Karena itu hadiahku tahun ini bukan barang mewah, melainkan janji: aku ingin menjadi suami yang lebih lembut, lebih hadir, dan lebih pantas untuk kamu cintai.

Terima kasih telah memilihku setiap hari selama 4.383 hari. Jika Allah izinkan dua belas tahun lagi, bahkan seumur hidup, aku ingin menghabiskannya di sisimu. Menggenggam tanganmu di dunia, dan semoga kelak di surga.

Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-12, cintaku. Aku mencintaimu karena Allah, dan karena kamu.

— Dari suamimu, dengan seluruh cinta
bukan sekadar angka · tapi bukti kamu tak pernah pergi
12

tahun. Dari pengantin yang grogi menjadi dua sahabat yang saling menguatkan. Lewat pindah rumah, malam-malam anak sakit, dan dompet yang menipis, tanganmu tak pernah lepas dari tanganku.

4.383

hari. Dihitung sejak 15 Oktober 2014. Setiap hari kamu memberiku satu alasan baru untuk bersyukur, dan hari ini alasannya adalah kamu masih membukakan pintu hatimu untukku.

∞

doa. Semoga Allah menjaga rumah kita sampai ke surga. Itulah satu-satunya impian yang tak akan pernah kutawar.

02 / Kenangan

Kotak kenangan yang berisi cahaya.

Enam potret kita, dari senja di pantai sampai hari raya. Tak perlu diklik, cukup digulir pelan dan dirasakan lagi hangatnya saat itu.

Selfie berdua saat senja di pantai
Senja di pantai · berdua, dunia terasa cukup
Berdua memakai koko dan gamis di hari raya
Hari raya · serasi, seperti doa kita
Berdua memakai batik couple sambil finger heart
Finger heart · cintaku untukmu
Selfie berdua di pantai
Pantai lagi · senyum yang sama
Foto candid ceria berdua
Tawa tanpa dibuat-buat · favoritku
Makan bareng berdua
Makan berdua · sederhana, tapi bahagia
03 / Dua belas

12 alasan aku jatuh cinta lagi.

Bukan alasan besar. Justru hal-hal kecil yang tak pernah sempat masuk foto, tapi selalu tinggal di hatiku.

  1. 01

    Tawamu yang renyah

    Dalam empat detik, ia menyembuhkan hari terburukku.

  2. 02

    Teh terakhir untukku

    Kamu bilang “aku sudah minum”. Aku tahu kamu mengalah, dan aku selalu terharu.

  3. 03

    Hidangan dari tanganmu

    Dari sarapan sampai makan malam, selalu ada. Marahmu pun selalu kalah oleh kasih sayangmu.

  4. 04

    Rapinya rumah kita

    Aku sering berantakan, kamu merapikan tanpa mengeluh. Terima kasih, sayang.

  5. 05

    Doamu yang lirih

    Sering kudengar sebelum aku tidur. Itulah selimut terhangatku.

  6. 06

    Sabarmu pada anak-anak

    Kamu ibu terbaik yang bisa mereka miliki. Aku bangga sekali.

  7. 07

    Tulisan tanganmu

    Catatan kecilmu di kulkas lebih indah dari puisi mana pun.

  8. 08

    Bahu untuk bersandar

    Aku tak butuh keliling dunia. Cukup bahumu di sofa tiap malam.

  9. 09

    Keteguhanmu

    Saat hidup sempit dan sakit, kamu tak pernah menyerah. Kamu kuat karena Allah.

  10. 10

    Nasi goreng buatanmu

    Selalu kuhabiskan dengan lahap. Sederhana, tapi rasanya seperti masakan restoran bintang lima.

  11. 11

    Ingatanmu yang detail

    Kamu mengingat tanggalnya, aku mengingat rasanya. Bersama, kita utuh.

  12. 12

    Pilihanmu setiap hari

    Bangun pagi, dan tetap memilihku. Lagi. Lagi. Dan lagi.

04 / Perjalanan

Tiga bab, satu hati yang sama.

Perjalanan kita terlalu panjang untuk dituliskan semua, jadi kuringkas dalam tiga bab. Sisanya, mari kita tulis bersama.

Belajar menjadi “kita”

Rumah kecil, kendaraan seadanya, mimpi yang besar. Kita belajar bahwa cinta adalah berbagi lauk terakhir tanpa berebut, dan saling menunggu di depan pintu.

Badai yang menguatkan

Anak-anak hadir, malam-malam panjang tanpa tidur, rezeki naik dan turun. Kita sempat lelah, tapi tak pernah melepas genggaman.

Pulang yang menenangkan

Kini kita lebih pelan dan lebih paham. Aku belajar bahwa rumah bukanlah tempat, melainkan seseorang. Dan kamulah rumahku, Sayang.

05 / Pengakuan

Maafku, dan janjiku padamu.

Di usia pernikahan yang ke-12, izinkan aku jujur tentang kekuranganku. Kamu sudah menerimanya dengan lapang. Sekarang giliranku berusaha lebih baik.

  • i

    Nada suaraku yang meninggi

    Kadang aku bicara dengan nada tinggi. Aku tahu kamu lalu marah, atau memilih diam, dan diam itu pasti menyakitkan.

    Janjiku: menarik napas dulu, menurunkan suara, dan memilih kata yang lembut. Kalau emosiku naik, aku akan pamit sebentar untuk berwudu, lalu kembali dengan hati yang teduh.

  • ii

    Kejutan-kejutan kecil

    Aku jarang memberimu kejutan, padahal kamu pantas disenangkan setiap hari.

    Janjiku: setiap pekan ada satu kejutan kecil. Bisa setangkai bunga, sepotong kue kesukaanmu, atau secarik pesan di tempat yang tak kamu duga.

  • iii

    Romantisku yang kurang

    Aku sering lupa mengucapkan hal-hal manis yang sebenarnya selalu ada di hatiku.

    Janjiku: mengucapkan “aku mencintaimu” dan “terima kasih” lebih sering, menatap matamu saat kamu bercerita, dan menyediakan waktu berdua yang sungguh-sungguh.

  • iv

    Menemani anak-anak belajar

    Aku belum cukup membantumu mengajari anak-anak. Padahal beban itu terlalu sering kamu pikul sendiri.

    Janjiku: menyediakan jam belajar tetap bersama mereka, dengan sabar dan tanpa tergesa, supaya kamu bisa bernapas lega dan mereka tumbuh dengan dua orang tua yang hadir.

  • v

    Membantu pekerjaan rumah

    Aku belum cukup sigap membantu bersih-bersih rumah, padahal rumah ini milik kita berdua.

    Janjiku: mengambil bagianku tanpa menunggu diminta. Mencuci piring, menyapu, merapikan, karena meringankan bebanmu juga bagian dari ibadahku.

Aku tahu, kita berdua masih terus belajar. Aku tidak sedang menunjuk siapa pun, hanya ingin kita bertumbuh bersama, saling memaafkan, dan saling menguatkan. Terima kasih sudah menerimaku apa adanya, dan sabar menungguku menjadi lebih baik.

06 / Cahaya

Yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan tentang kita.

Ayat dan hadis tentang suami istri yang kupegang erat. Menenangkan saat kita lelah, dan mengingatkanku saat aku lupa.

  • وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

    “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”

    QS. Ar-Rum [30]: 21

    Dari ayat inilah kata “sakinah, mawaddah, warahmah” berasal. Kamu adalah tempatku merasa tenteram.

  • هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

    “Mereka (para istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.”

    QS. Al-Baqarah [2]: 187

    Kita saling menutupi kekurangan, saling menghangatkan, dan saling menjaga.

  • وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ

    “Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut.”

    QS. An-Nisa [4]: 19

    Pengingat utamaku: bicara dengan baik, lembut, dan sepatutnya.

  • خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

    “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.”

    HR. At-Tirmidzi no. 3895

    Ukuran suami yang baik ada di rumah. Aku ingin menjadi yang terbaik untukmu dan anak-anak.

  • لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

    “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu akhlaknya, ia akan ridha dengan akhlaknya yang lain.”

    HR. Muslim no. 1469

    Ada kurangku dan kurangmu. Semoga kita melihat kebaikan yang jauh lebih banyak.

  • رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

    “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

    QS. Al-Furqan [25]: 74

    Doa yang ingin kubaca bersamamu, untuk kita dan anak-anak kita.

  • Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita, dalam sebuah perjalanan ia berlomba lari dengan Rasulullah saw. dan ia yang menang. Setelah badannya berisi, mereka berlomba lagi dan kali ini beliau yang menang. Beliau tersenyum dan bersabda, “Ini untuk membalas kemenangan yang dulu.”

    HR. Abu Dawud no. 2578 (disahihkan Al-Albani)

    Rasulullah saw. pun bercanda dan bermain dengan istrinya. Semoga rumah kita juga penuh tawa.

07 / Doa kita

Yang kita titipkan kepada Allah.

Cinta kita tak berhenti di dunia. Inilah doa-doa yang ingin kuaminkan bersamamu, di setiap sujud.

  1. Sakinah, mawaddah, warahmah

    Semoga rumah kita selalu tenang, penuh cinta, dan dirahmati, sampai akhir hayat.

  2. Anak-anak yang saleh dan salehah

    Semoga mereka tumbuh dalam iman dan akhlak yang mulia, menjadi penyejuk mata dan penolong kita di akhirat.

  3. Berangkat ke Tanah Suci, berdua

    Semoga Allah memanggil kita ke Baitullah, bergandengan tangan, memohon ampun bersama.

  4. Rumah impian kita

    Rumah yang lapang dan penuh berkah, tempat anak-anak bermain dan tamu disambut dengan senyum.

  5. Dunia dan akhirat yang terbaik

    “Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah.” Semoga kita dikumpulkan lagi di surga-Nya.

· penutup ·

Dua belas tahun lagi?
Jawabku tetap sama: mau.

Kalau suatu hari kita saling diam atau salah paham, bukalah laman ini. Biar kita ingat: kita sampai sejauh ini bukan karena selalu mudah, tapi karena kita memilih untuk tetap tinggal dan tetap saling mencintai.

Baca suratku lagi ♥

15 Oktober 2026 · Azmi untuk Shofiana

♪ Ada lagu untukmu. Ketuk untuk memutar.